RSS

Pelajaran Bahasa Indonesia Dihapuskan?

19 Apr

Saya sungguh terkejut saat membaca tulisan di Media Online Nasional Suara Guru yang berjudul “Hapuskan Mata Ajar Bahasa Indonesia”. Tulisan yang kemudian setelah saya lacak bersumber dari Koran Tempo terbitan 18 April 2011. Sebuah telaah kritis sebenarnya, hanya kurang dilengkapi dengan data yang valid.

Saya memahami arah tulisan yang ditulis oleh Maryanto (Pemerhati Politik Bahasa) tersebut. Ada nada pesimisme sekaligus kegeraman melihat pertumbuhan bahasa Indonesia saat ini. Pesimisme itu muncul dari pernyataan bahwa dari siswa yang gagal ujian nasional tahun 2010 lalu, 73 persen disebabkan oleh bahasa Indonesia. Sebuah persentase mencengangkan tentunya. Ah, tapi apa benar angka itu? Data dari manakah?

Sementara itu, rasa pesimisme dari penulisnya muncul melihat perkembangan bahasa Indonesia terutama di sekolah berlabel SBI dan RSBI. Bahasa asing mendominasi dan mengakibatkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dipinggirkan. Sebuah ilustrasi perkembangan bahasa yang ironis karena terjadi di tanah tumpah darah sendiri.

Persoalan bahasa Indonesia memang dilematis. Di saat sebagian orang berusaha mati-matian mempertahankan keberadaannya, pada sisi lain politik kebahasaan justru menggiring bahasa Indonesia menjadi bahasa yang marjinal. Apa yang dicontohkan oleh Maryanto dengan kasus di SBI dan RSBI ada benarnya. Namun bukan berarti dengan keadaan seperti itu mata ajar ini dihapuskan.

Di beberapa negara, justru pertumbuhan bahasa Indonesia menunjukkan kemajuan yang mencengangkan. Seperti yang kita pahami, Australia misalnya, sangat serius dengan mata ajar ini. Di negara-negara Islam, ada usulan agar bahasa Indonesia dijadikan bahasa Internasional di samping bahasa Arab. Selain itu pembelajaran bahasa Indonesia di beberapa negara Timur Tengah seperti Syiria dan Mesir pun sudah dimulai.

Apa yang dicontohkan oleh Maryanto dalam tulisannya, justru keadaannya bertolak belakang dengan kenyataan. Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah justru tidak lagi mementingkan aspek pengetahuan kebahasaan. Pada saat ini pembelajaran bahasa Indonesia sudah mencakup ranah praktis. Siswa tidak lagi diajarkan untuk menyebut dan menghapalkan ada berapa jenis kata ulang. Di bidang tulis-menulis, anak didik lebih diarahkan untuk menghasilkan tulisan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Apabila didalamnya pelajaran menulis juga dibicarakan masalah ejaan misalnya, adalah hal yang wajar, mengingat perlunya pengetahuan itu dimiliki anak didik. Namun masalah ejaan bukanlah tujuan utama dalam materi pelajaran menulis.

Memang diakui, banyak hal yang harus dibenahi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Persoalan materi pelajaran hingga kemampuan guru dalam mengejawantahkan materi pelajaran. Malah bila perlu, saat guru mengajar, kelas bisa ditinggalkan. Alam atau lingkungan sekitar bisa dieksploitasi untuk kegiatan pembelajaran.

Arah dan kebijakan pemerintah, memang diakui, akan ikut mempengaruhi laju dan keberadaan bahasa Indonesia. Pada saat kita sebagai anak bangsa, tidak lagi memilki kecintaan dan kebanggaan akan bahasanya sendiri, tentulah apa yang telah diikrarkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 lalu menjadi sesuatu yang dilematis. Hidup dan laju serta keberadaan bahasa Indonesia sampai kapan pun, tetap tidak berada di tangan bangsa lain. Kitalah yang memiliki kekayaan yang tak ternilai ini yang terus berdiri tegak untuk mempertahankannya.

Semoga.

About these ads
 
12 Komentar

Posted by pada 19 April 2011 in Esai, Pendidkan

 

Tag: , ,

12 responses to “Pelajaran Bahasa Indonesia Dihapuskan?

  1. BGK

    19 April 2011 at 02:00

    Nek penginku, sing diubah EYDne gan. Soale Ejaan Yang selalu Diubah-ubah, mbingungke kabeh. Nek ra percaya, coba iki : Apa bahasa Indonesiane:
    a. Kunduran treg(k).
    b.Nangekne it.

    aha, ada yang mau bantu?

     
  2. BGK

    19 April 2011 at 02:01

    b. Nangekke pit

     
  3. achoey el haris

    20 April 2011 at 14:30

    Kadang banyak siswa menyepelekan Bahasa Indonesia
    padahal waktu saya ngelola bimbel banyak yg jelek tuh nilai Bahasa Indonesianya :)

     
  4. sawali tuhusetya

    21 April 2011 at 00:18

    opini pak maryanto agaknya beralasan juga, pak zul. bisa jadi, kalau orang jawa bilang “nglulu” lantaran ada upaya sistematis dari sekolah berlabel rsbi yang salah konsep itu utk menyingkirkan bahasa indonesia sbg bahasa resmi di institusi pendidikan. entah itu disadari atau tidak!

     
  5. Usup Supriyadi

    22 April 2011 at 16:52

    Menyedihkan sekali jikalau itu terjadi. Semoga tidak!

     
  6. ANI

    23 April 2011 at 07:16

    Aku ikut prihatin pak.Saya yakin lain waktu, banyak kebijakan tentang sekolah akan berubah, ketika ganti Mentrinya.

     
  7. Wandi Sukoharjo

    23 April 2011 at 07:19

    Inilah salah satu alasan mengapa saya nggak mau ditarik pindah ke sekolah RSBI semacem SMP 2 Kendal bos.
    Nek Mentrine aku, tak ganti “SIBI = Sekolah Internasional Bertaraf Indonesia” :lol:

     
  8. Yassir

    24 April 2011 at 00:00

    Di negara-negara maju tu sebenarnya ga ada sekolah bertaraf internasional, cuma di sini tok yang ada sekolah begituan. Maunya nggaya, tapi norak…

     
  9. Salesman Jogjakarta

    24 April 2011 at 13:01

    Kalau kalau yang seperti ini kayaknya akan jadi Polemik Serius

     
  10. kawan

    2 Mei 2011 at 19:09

    Sederhana saja : supaya muridnya pintar berbahasa Indonesia maka GURUNYA JUGA HARUS PINTAR DULU berbahasa Indonesia. Pertanyaannya: sudahkah guru-gurunya pintar? Fakta: sekarang banyak guru yang diangkat hanya karena koneksi, kolusi, dan perkoncoan. Mustinya perekrutan guru dgn tes murni sehingga kepintaran dan kecerdasan guru bisa diandalkan.

     
  11. Rusdi, S.Pd

    24 Mei 2011 at 17:07

    Jangan menyepelakan pelajaran Bahasa Indonesia dalam UN

     
  12. Rusdi, S.Pd

    25 Januari 2012 at 22:42

    Bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa kalau tidak di ajarkan, banyak anak Indonesia yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: