lewat taburan musim-musim lampau kita catat kembali kenangan
lalu kita susun tanya dengan kepala tengadah
:siapa pewaris sah negeri ini?
padahal (kita tahu) detak jam telah lama berganti
menghitung ruang dan waktu di batas mimpi
:kemana kita sembunyikan corengan wajah?
lonceng jam selalu bertanya tentang angka
yang tak sekali pun berubah
:mengapa kita bangun rumah ibadah
dan kemudian kembali merubuhkannya?
dengung quran kian samar, tanpa kita bisa
berbuat apa-apa
“mengapa?” tanyamu sepi
kita agungkan sriwijaya, majapahit, mataram
tuangku imam bonjol, diponegoro, patimura
budi utomo, syahrir, sukarno, dan hatta
tanpa kita sadar, mereka telah menjadi tumbal bagi hidup kita
:mengapa kita hanya bisa ikut, tanpa berhak menentukan?
DIarsipkan di bawah: Puisi | Tagged: Catatan sembilan tiga, Puisi




saya yang gak ngerti puisi aja trenyuh bacanya.
apalagi bagian pahlawan yang jadi tumbal.
semoga pengorbanan mereka gak sia-sia ya, pak?
…> semoga ya uni. kesadaran dalam hidup berbangsa harus tetap tertanam di hati dan diaplikasikan dlm tindakan
Yang kami, anak-anak bangsa, warisi hanyalah episode-episode cerita tentang kebesaran bangsa ini di masa lampau.
…> bgm pun tetap Alhamdulillah pak. tidak ikut “ngadu” nyawa melawan penjajah.
Puisi prismatismu boleh juga!
Kumpulan aja, Bang!
Ntar dibukukan.
Biar anak keturunan kita bisa menikmati keindahan dan rekaman kehidupan yang terdapat di dalamnya.
Tabik!
…> mau mendonaturi?
masih aja terpesona ama warisan
…> mau tidak mau, sejarah…
Saatnya berbuat dan ikut serta dalam setiap detak dan langkah pembangunan di negeri ini.
…> setuju pak…
lirik historis yang bagus banget, pak, mengingatkan kita kepada para pendahulu negeri yang telah menumpahkan darahnya utk “tumbal” ibu pertiwi. sayangnya, makin lama negeri ini makin melupakan semangat para pendahulu negeri akibat makin banyaknya “petualang” yang mencari kesempatan.
…> iya pak. petualang yg sungguh mencengangkan lagi mengerikan
kita berhak menentukan, walau merangkak
puisi yg dalam pak zul, selalu keren
mari hapus corengan wajah, walau susah nyari cairannya hehe, kidding pak
…> terima kasih meiy. catatan kecil di hari ultah kemerdekaan
iya menjaga warisan itu susah yah..ampe sikut dan sikat sesama anak bangsa
…> iya pak. kira-kira solusi terbaiknya bagaimana ya….