sudah kau hafalkan nama itu baik-baik?
juga jangan lupa: jalan-jalan, gedung, etalase
dengan aneka barang, restoran, dan bank-bank pasar sungei wang
jangan pernah lupa, karena kita pernah singgah
di sana. berbelanja dan mabuk dalam pesona
yang tak pernah kita mengerti
apa makna sebenarnya
sebentar, tunggu dulu. kita belum selesai bicara
aku tahu, wajahmu telah beku. di atas taxi
yang membelah kualalumpur, ada serunai minang
bukankah kau selalu memintaku lagukan itu?
tapi sayang, kau malah menangis
kita pulang setelah mengitari pasar sungei wang
tanpa bicara. mungkin kau benar-benar sedih
perpisahan mengambang di mataku
“jangan pernah lupa pasar sungei wang
dan kualalumpur,” bisikmu
sesaat sebelum lambai penyudahan
di pasar sungei wang dengan beribu kenangan
dan kerlip lampu; aku tahu
cinta itu telah menumbuhkan tunas di hati
(seseorang yang selalu bercerita tentang sedih
dan air mata. seseorang yang berharap dalam bibir
yang basah)
, maafkan aku!
(sebuah kenangan tahun 1992 di sungei wang kualalumpur)
DIarsipkan di bawah: Puisi | Ditandai: Puisi, Puisi Kenangan




wew…. pak zul akrab juga dg sungei wang, yak? mendengar kata sungei, ingatan saya jatuh pada pemandangan sungai di negeri kita yang sudah tercemar banyak polusi, hehehehe
btw, sungei itu beda sama sungai, ya, pak? eh, komen asal.
…> Sungei wang kalau diindonesiakan kurang lebihnya ya sama dg sungai uang. sungei wang merupakan suatu kawasan perindustrian di malaysia. bank banyak terdapat di daerah ini.
semoga kenangan itu menjadi pelajaran terbaik buat kita , be a better person
…> Setuju mas said
gk nutut pikiranq..
T_T
…> gk nutut bagaimana mas?