suatu ketika aku akan katakan padamu:
“selamat tinggal….”
walau mungkin tanpa iringmu, tak ada lambai itu
tapi kau harus mengerti, itu aku tak butuh
perpisahan yang menakutkan, kadang suatu keberuntungan
(kau masih percaya bukan?)
pertemuan-pertemuan selama ini
telah membawa kita kembali ke persimpangan
tanpa bisa memilih jalan yang mesti dilalui
“selamat tinggal…!” kuteriakkan itu
dikesendirian pada jalan yang memang lengang
masihkah kau kan tulikan telinga
ketika kau tahu itu ucapanku yang terakhir?
barangkali ini hanyalah arogansi yang kau pamerkan
sebab kutahu, matamu masih menyimpan cahaya rindu
akankah dustamu kembali mewarnai
hari-hari yang tak lagi berlari?




waaah pandai bersyair ternyataaaa
*jadi maknanya apa?? oon mode on
*
Tapi emang bener, perpisahan tuh sesuatu yg menakutkan. Aku paling benci dg perpisahan. Apalagi ama orang yg disayang, ya nggaaaa.
…> Iya. Jangan sampai ya…
kalau pertemuan hanya membawa pada persimpangan
tanpa satu pun pilihan yang nyaman
maka perpisahan menjadi hal yang paling memungkinkan
meskipun jarak terkadang hanya melahirkan kerinduan…
…> Paling tidak jarak dan waktu bisa menuai kenyataan yg mesti dihadapi untuk diri di masa depan
sudah kuucapkan selamat tinggal ribuan kali,
hanya di bibir
tapi di hati dia tak pergi
…> Nah, itu dia masalahnya. Rumit kan?
bait : hari-hari yang tak lagi berlari? ini mengingatkan pd salah satu puisi terbaik chairl anwar, berjudul Senja di pelabuhan kecil….ini nih baitnya
,
“…desir hari lari berenang..”
…> Yg pasti beda jauh kan? Penggunaan kata (hari, lari) dan suasana yg sama -pada larik bukan bait- untuk hal yg berbeda. (Komentar yg hampir senada dari Pak Sawali untuk puisi Senja yg Melelahkan)
lho…meang mau kemana?? (binggung)
…> Blm tahu mau kemana…
membaca puisi yang satu ini, sembili di hatiku…
mau menangis namun air mataku kering telah abis…
kenyataan pahit seperti itu berulang kali kualami…
kadang hati dan pikiran saling berseberangan…
getir … getir …. pilu…
salam takzim,
komariyah
cat. Pak Zul, saya memang masih muda… cuma boros dimuka dan belum berkesempatan diberi pendamping alias masih jomblo …
do’akan cepet ya….
…> Wah, maaf ya Bu atas persangkaan yg keliru. Semoga puisinya sedikit menghibur. Puisinya tentang kenangan pahit saya saat kuliah dulu.
Semoga harapan Bu Komariyah cepat terkabul.
Salam
urang awak ko pak?
salam kenal yo..
dima kini?
awak di jogja
…> salam kenal juga. Ambo di pekalongan
Salam dari Koto Anau Mak..:) Santiang Mamak mambuek puisi mah,…tuka link wak baa nyo Mak? Urang Pasisia lah wak tambahan dulu..Mokasi sabalumnyo Mak..
…> O iyolah. link-nya juga alah ambo cantumkan
perpisahan memang menyakitkan…
…> Punya pengalaman yang sama tentang perpisahan mbak?
…> Punya pengalaman yang sama tentang perpisahan mbak?
hmm iya..dan tidak mau itu terjadi lagi..
…> Semoga ya mbak. eh, dari alamat emailnya sepertinya ada unsur minangnya. mbak afra dari minang atau ortu?
ayah saya dari Solok pak..tepatnya di Kampung Selayo. Chaniago Kalampayan ^_^
Ibu saya dari betawi asli.. hehe .. minangnya dr Ayah b’arti bukan minang ya
-matrilineal (mode:on)-