RSS

Rindu Kampung

08 Mar

Lama sudah aku tidak pulang.

Aku tidak tahu persis berapa lama tidak menginjakkan kaki di kampung halaman. Antara 5-6 tahun. Rindu sih. Namun kerinduan itu mesti kutahan. Aku harus realistis: utamakan menata masa depan.

Kabar tentang kampung halaman senantiasa menghampiri setiap waktu, saban tahun. Tentang tetangga atau famili yg sudah menghadap Ilahi, tentang gempa yg sering membuat panik, tentang banjir yg menggenangi rerumahan.

Ada juga kabar lainnya: Jembatan Siti Nurbaya yg luar biasa indah, Batu Malin Kundang yg tetap membisu di Pantai Air Manis, objek wisata yg aduhai…

Aku rindu semua. Rindu dengan kampusku UNAND dan dosen-dosennya yg ramah, rindu ketemu dg gurau dan cerita para sastrawan saat masih bersama dulu: da Gus Tf, Pak Wisran Hadi, Bang Harris Effendi Thahar, Yusrizal KW, Hary B Koriun, Uda Wannofri Samry, Pak Fadlillah, Iyut Fitra, Gusnaldi Saman, Da Adri Sandra, Yusril Katil, dan…, banyak lagi.

Bila rindu datang, kadang aku lampiaskan dg mendengarkan lagu-lagu Minang atau bersilancar di internet membaca data dan karya mereka.

Begitulah. Namun lebih dari itu, rindu dg keluarga terasa lebih menggebu. Rindu suasana kampung dan masakannya.

Bila rindu terasa tak tertahankan, kadang kutulis semua lewat puisi dan diari. Kadang kembali membaca karya yg pernah kutulis dan diari yg pernah kubuat.

Duh kampungku…, kampuang nan jauah di mato….

About these ads
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Maret 2008 in Diari

 

Tag:

4 responses to “Rindu Kampung

  1. fisha17

    8 Maret 2008 at 19:59

    Kalo ambo tiap seminggu sekali pulang kampuang kang, jadi kerinduan masa lalu selalu terobati.

     
  2. inaba

    8 Maret 2008 at 23:41

    5-6 tahun??lama bgt. Bisa kebayang gak ya kerinduan ibu selama itu??????

     
  3. zulmasri

    9 Maret 2008 at 03:17

    @1. Tiap minggu? Enak banget. Lha jarak ke kampung halaman berapa jauh?

    @2. Kebetulan tiap tahun ibu ke tanah Jawa, mengunjungi anak-anaknya di perantauan. Dari Padang antara2 sampai 2,5 jam sampai di Jakarta, dan mampir di tempat anak/famili yg ada di Jakarta. Lalu ibu baru ke Pekalongan, atau saya yg ke Jakarta. Namun tetap saja rindu dg suasana kampung, sanak saudara, dan kawan-kawan.

     
  4. Faradina

    9 Maret 2008 at 09:19

    Setiap perjalanan, jauh atau dekat, selalu ada titik untuk kembali.

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: