Adakah yang lebih menyedihkan saat lambai pisah sudah diputuskan sebagai pilihan? Adakah mampu mengusir air mata tumpah bila kebersamaan yang tercipta harus berakhir di ambang mata?
Rabu, 18 Januari 2012 di bebukitan Sengare, di sebuah sekolah, SMP 2 Talun. Pada 2 kelas yang saya masuki, saya menyampaikan kabar itu. Kabar yang saya balut dengan kata-kata pisah. Bahwa hari itu adalah hari terakhir saya mengajar di SMP 2 Talun. Sebuah sekolah yang notabene terletak jauh dari perkotaan. Sebuah sekolah desa yang terus menggeliat dan memposisikan dirinya bukan sebagai underdog. Indikatornya jelas, hasil ujian nasional dan beberapa prestasi prestisius pernah diraih. Namun di luar semua itu, prestasi kebersamaan yang tercipta antara guru dan siswanya jauh lebih luar biasa.
Maka tidak mengherankan, bila para siswa yang saya kabari berita itu sontak kaget dan sedih. Berita yang memang sebelumnya tidak mereka sangka. Berita yang memang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Apalagi anak-anak binaan ekstrakurikuler jurnalistik yang memang merasa amat dekat. Dengan lirih salah seorang dari mereka berucap, “…lha terus yang akan melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik siapa, Pak?”
Bagi saya, kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik termasuk ujung tombak mengasah kemampuan siswa dalam menulis. Oleh karena itu saya sempat tercenung sejenak, lalu berusaha menghela air mata yang tumpah sembari menjawab dengan penuh ketidakpastian. “Mudah-mudahan nantinya ada yang menggantikan saya….”
***
Siang itu suasana Bukit Sengare diliputi mendung tebal. Biasanya memang demikian. Hujan biasa turun pukul 11.00, apalagi di saat musim hujan begini. Seringkali dari sekolahan saya harus mengenakan mantel karena hujan, namun begitu mendekati pinggiran kota saya bertemu dengan cuaca panas terik. Bila rasa malas muncul untuk turun dari kendaraan roda dua guna mencopot mantel yang dikenakan, jadilah saya pengendara yang ajaib: mengenakan mantel hujan pada cuaca yang menyengat.
SK mutasi saya per 13 Januari 2012 memang sudah saya terima. Secara resmi saya pindah ke SMP 1 Sragi. Sebuah sekolah berlabel SSN, yang pada tahun sebelumnya mengalahkan RSBI dalam capaian prestasi ujian nasional. Sebuah sekolah yang terdiri dari 24 kelas dan sering mencetak prestasi juara. Sebuah sekolah yang berjarak 7 km dari tempat saya tinggal, beda jauh dengan SMP 2 Talun yang harus saya tempuh sejauh 35 km.

Siang itu saya kembali melakukan napak tilas, mengenang saat pertama saya datang tahun 2005 lalu. Saat sekolah sudah sepi, saya pun pulang dengan laju kendaraan yang pelan. Melewati jalanan berbatu dengan aspal yang sudah tidak kelihatan lagi. Terakhir, jalan ke Sengare tempat SMP 2 Talun berada memang diperbaiki dengan aspal tambal sulam tahun 2008 lalu. Sejak itu belum ada lagi perbaikan. Bisa dibayangkan, jalanan yang hanya diaspal tambal sulam, dilewati truk yang mengangkut daun teh dan terkadang kayu, ditambah dengan hujan yang hampir tiap hari turun, jelas menambah parah keadaan. Tidak mengherankan, kawan-kawan sesama guru sudah terbiasa jatuh dari kendaraan.
Di luar hal itu pada beberapa bagian memang masih ada beberapa ruas jalan yang masih baik, terutama daerah agak bawah yang diaspal tambal sulam menjelang pilkada tahun lalu. Saya pun berhenti sejenak, menikmati keindahan Bukit Sengare.
Di langit mendung kian bergayut. Tak lama tetes hujan pun jatu. Saya nyalakan kendaraan, melaju menuruni bebukitan Sengare.
0.000000
0.000000