Pengantar
Mendidik dan mengajar adalah dua kata yang tidak mudah diwujudkan, apalagi dengan sebuah harapan besar: anak didik benar-benar lulus dengan hasil yang diingin dan diangankan. Perlu ketelatenan, kesabaran, dan penanganan yang benar-benar manusiawi.
Terkait dengan hal itu, di bawah ini saya kopikan sebuah karangan yang ditulis Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sebuah tulisan yang patut jadi renungan bersama, baik sebagai orang tua, apalagi bagi yang berprofesi sebagai guru. Karangan ini saya ambil dari http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/.
Selamat membaca
***
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
Read the rest of this entry »
0.000000
0.000000