Abad yang Terluka
begitu banyak suara begitu bising berita
ketika era informasi diglobalkan
dan komunikasi, dunia tanpa baju dan celana
telanjang, orang-orang menikmatinya
mestinya kita memelihara sedikit yang kita punya
dan menempatkannya di muka, tanpa harus melewati jalan panjang, berliku, dan berbelitnya birokrasi
sebab kita maukan kejujuran, kita sama agungkan
keterbukaan dan kebebasan sebagai cita-cita
tanpa muka masam atau manis berduri
yang hanya mendatangkan parasit dan gulma
kita kian mengerti, begitu banyak atmosfir beracun
asap berwarna, dan lautan tempat bertumpuknya sampah
kita semakin tahu, betapa bumi kian sempit
dan lahan hijau kian hilang
hingga begitu banyak hal yang hanya diproyekkan
kita akan dapat memahami akhirnya
mengapa ada penggusuran dan protes dari rakyat kecil
yang sungguh telah menjadikannya
sebagai santapan kedua sepanjang abad yang terluka
DIarsipkan di bawah: Puisi | yang berkaitan: Karya Sastra | 13 Komentar »