Jadwal dan Kisi-Kisi (SKL) Ujian Nasional 2010

Ujian Nasional 2010 kembali menjelang. Malah jadwalnya maju, dari rencana semula bulan April 2010 menjadi Maret 2010. Permendiknas No. 75/2009 yang ditandatangani Mendiknas 13 Oktober 2009 lalu mengindikasikan bahwa jadwal UN SLTA dilaksanakan minggu ke-3 Maret 2010 dan SLTP pada minggu ke-4 Maret 2010.

Kabar mengejutkan ini tentu saja mengakibatkan beberapa sekolah menjadi kelabakan. Ada yang memulai kegiatan tambahan jam pelajaran dan ada pula yang memfokuskan mata pelajarannya khusus untuk mata pelajaran yang akan diujikan saat UN. Semua mengarah pada kesusksesan UN.

Dari Permendiknas juga diketahui, bahwa kriteria kelulusan dan mata pelajaran yang akan diujikan masih sama seperti tahun sebelumnya. Nilai rata-rata 5,50 dengan nilai minimal permata pelajarannya boleh nilai 4,00 untuk 2 mata pelajaran.

Ujian Ulang
Mengapa UN 2010 dimajukan jadwalnya? Ini tak lain daripada strategi pemerintah yang kembali mengadakan ujian ulang bagi siswa yang tidak lulus. Ujian ulang ini ditujukan sekaligus memberikan kesempatan bagi siswa yang belum lulus untuk memperbaiki diri.

Bagi yang ingin mengetahui secara lengkap Permendiknas 75/2009 dan kisi-kisi (SKL) Ujian Nasional, bisa diklik di sini

PENERIMAAN CPNS 2009 PROVINSI JAWA TENGAH

Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (cpns) untuk Jawa Tengah sudah dimulai. Para pencari kerja, khususnya peminat yang ingin menjadi cpns silakan mempelajari persyaratan yang telah di informasikan. Silakan dicermati dan diikuti, sehingga nantinya tidak terkendala terutama saat dinyatakan lulus dan dilanjutkan dengan pemberkasan. Untuk pendaftaran sendiri dimulai 30 Oktober sampai 10 November 2009.

Informasi untuk cpns banyak yang bisa di link. Khusus untuk informasi tiap kabupaten/kota di Jawa Tengah bisa diklik alamat (link) yang sudah disediakan di bawah ini. Sedangkan untuk beberapa daerah seperti Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan beberapa daerah juga saya sediakan. Silakan diklik saja. Mudah-mudahan Anda termasuk yang beruntung.

Untuk kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah, klik di sini
Untuk Kabupaten Pekalongan klik di sini
Untuk Kota Pekalongan klik di sini
Untuk Kabupaten Batang, klik di sini
Untuk Kabupaten Pemalang, klik di sini

PADANG KOTAKU

rinai menggigilkan keluh, duhai kotaku
saat tangis pecah usai gelegar gempa
terpaku aku di layar kaca
padang kotaku, luluh dalam tangis dan air mata

masih terkenang masa-masa indah itu
menikmati sunset di damar plasa
meresapi udara taman budaya
mencicipi kripik balado di kampung cina
naik turun bus kota yang lelah pulang kuliah

padang kotaku
hari ini jelitamu
hari ini indahmu
berganti tangis lirih saluang dan bansi
dimana kudapat indahnya masa lalu
saat alammu murka dalam badai gempa?

padang kotaku
kurindu paras cantikmu

KAMPUNGKU DIGOYANG GEMPA

Berita itu sungguh mengagetkan. Lagi-lagi kampungku dilanda gempa. Tapi kali ini dengan gempa yang terjadi lebih besar. BMG mencatat 7,6 SR. Berita yang dilansir media senantiasa kupantau sejak sore hingga tulisan ini kutulis.

Kegundahan ini sungguh tak tertahankan. Ibu, saudara, dan famili yang berada di kampung hingga tulisan ini dibuat belum jelas kabarnya. Pesawat handphone yang kuhubungi tidak pernah bisa tersambung sebagaimana yang diharapkan. Entah bagaimana kabar dan keadaan mereka.

Kampungku berada di Kenagarian Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Jaraknya sekitar 130 km Selatan Kota Padang. Sinyal simpati yang biasanya bisa nyambung, terputus sama sekali.

Di Pekalongan, Utara Pulau Jawa ini, harapan dan doa senantiasa kupanjatkan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

Memang, musibah kali ini bukan pertama kali. Sejak gempa yang diikuti tsunami Aceh beberapa tahun lalu, kampungku sudah tidak terhitung dilanda gempa. Hanya saja skalanya lumayan kecil. Tapi kali ini, dengan skala 7,6 SR aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi.

Tuhan, bila ini cobaan, bila ini peringatan, selalu jadikanlah kami menjadi orang yang tetap beriman pada-Mu. Bekali selalu kami dengan takwa dan kesabaran. Jadikanlah semua menjadi sesuatu yang tidak sia-sia. Amin…

Lowongan CPNS Polri dan Badan Pertanahan Nasional

Kali ini info untuk para pembaca yang ingin jadi CPNS. Lowongan kerja ini datang dari Polri dan Badan Pertanahan Nasional.

Adapun untuk informasi, persyaratan dan segala macamnya bisa diklik pada link berikut ini:
1. Untuk CPNS Polri klik di sini
2. Untuk CPNS BPN (Badan Pertanahan Nasional) klik di sini

Khusus untuk Polri, dibutuhkan tenaga kerja dari berbagai kualifikasi ketenagaan seperti dokter, dokter gigi, bidan, perawat, tamatan akuntansi, dan lain-lain dengan jumlah yang lumayan banyak. Tertarik? Silakan klik link yang disediakan di atas.

Sementara itu dulu. Untuk CPNS guru/tenaga kependidikan dan tenaga kesehatan lainnya, harap sabar menunggu.

Semoga bermanfaat!
naga akuntansi, dan lain-lain..

M A A F

Buat sahabat, semua teman, para pembaca budiman, dan teristimewa para komentator di blog sederhana ini,

dari lubuk hati paling dalam
dan dengan untai pinta penuh keikhlasan

saya mohonkan pintu maaf dibukakan.

Saya sadar, banyak hal yang mungkin tidak bisa saya hadirkan sebagaimana harapan pembaca via ruang komentar. Untuk itu pada kesempatan baik ini, sekali lagi saya minta maaf.

Tidak ketinggalan pula, saya ucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Semoga dihari yg fitri ini kita kembali hadir sebagai manusia yg fitrah.

18 AGUSTUS DUA TAHUN LALU

18 Agustus dua tahun lalu
Kudatang dalam tekad bulatku
Berjanji di hadapan pak penghulu
Berucap setia padamu selalu

Kini tepat pada hari ini
Sehari usai Proklamasi diperingati
Kulihat pijaran rembulan
Di wajah indahmu dalam temaram

Dua tahun berlalu sudah
Menikmati suka maupun duka
Seorang putra sebagai anugerah
Terlahir dalam denting cinta

Duhai adinda duhai pujaan
Pendamping setia lewati khayalan
Terima kasihku yang tak terhingga
Mengurai dalam rumah sakinah

Ucap syukurku pada-Mu ya Allah
Atas limpahan karunia
Semoga tetap mengalir sepanjang masa
Dalam sujud dan ibadah diri

Langkah Agupena Jateng Berikutnya: Lomba Blog untuk Guru

Sore 9 Juli 2009 saya tiba-tiba ditelepon oleh seseorang. Beliau mengaku Pak Nurkhadi, guru sebuah SD di Kabupaten Pekalongan. Pak Nurkhadi sangat antusias dengan keberadaan Agupena Jateng yang sukses menyelenggarakan seminar nasional dan lomba menulis artikel. “Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena ada keperluan lain yang mendesak. Padahal sebelumnya saya sudah merencanakan akan ikut,” jelas Pak Nurkhadi.

Selanjutnya Beliau menanyakan agenda Agupena Jateng berikutnya. Oleh karena saya tidak ingat secara persis, saya sebutkan saja secara global (untuk lebih jelas tentang program Agupena Jateng, saya pernah menulis di blog ini). Lebih jauh Pak Nurkhadi menanyakan tentang kegiatan di Kabupaten Pekalongan dan sayapun mencoba menjelaskannya. Terakhir, saya pesan agar menghubungi Pak Sardono Syarief yang menjadi Ketua Agupena Kabupaten Pekalongan.

Pembaca, berikut ini saya muat secara utuh tulisan Ketua Umum Agupena Jawa Tengah, Pak Deni Kurniawan, yang dimuat di FB sebagai oleh-oleh dan rencana akan adanya lomba blog bagi guru yang direncanakan tahun 2009 ini. Lebih jauh berikut kopi pastenya:

MENGISI LIBURAN DENGAN AUDIENSI
Oleh Deni Kurniawan, S.Pd.

“ Pak, liburan kemana aja, “ tanya Ardi Rizki Yanto, salah seorang siswa saya lewat facebook. Saya menjawabnya dengan enteng, ” Wah, Ar, akhir tahun semester ini bapak ndak liburan ke mana-mana,” Persoalannya bukan tidak ingin liburan namun rupanya situasi belum mengijinkan.

Ada beberapa agenda yang ternyata harus saya lakukan di musim libur tahun ini. Selain ikut menjadi Panitia Penerimaan Peserta Didik (PPDB) di sekolah, Agupena, salah satu organisasi di mana saat ini saya mencurahkan segala pikiran dan energi memiliki gawe yang cukup penting untuk eksistensi organisasi kini dan yang akan datang. Audiensi dengan Dinas Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan dengan baik saat sebagian orang asyik menikmati liburan.

Dan, rencana mau liburan di akhir ternyata juga tidak terlaksana karena pada tanggal 24 Juni 2009 mendapat kiriman SMS (short message service) dari Ketua Umum Agupena Pusat untuk mengikuti Audiensi Agupena dengan Sesditjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependikan). Audiensi yang terkandung maksud melakukan silaturahmi itu sekaligus ingin menyampaikan informasi kegiatan Agupena selama ini kepada PMPTK. Seperti yang telah diketahui bahwa Agupena, muncul pertama kali digagas oleh orang nomor satu di PMPTK saat itu (baca: Dr. Fasli Jalal, Ph.D) tahun 2006. Sehingga ada semacam ikatan batin yang kuat antara Agupena dengan PMPTK.

Alhamdulillah, saya bersama Pak Sawali dapat memenuhi undangan Ketua Umum Agupena Pusat tersebut. Akhirnya, Kamis, 9 Juli 2009 pukul 07.45 saya telah berada di kantin Depdiknas menanti acara yang diagendakan pukul 10.00 itu. Sambil menunggu saya memesan teh hangat sambil membaca koran mencari berita siapa presiden terpilih. Sekira 20 menit kemudian datanglah Mr. Sawali menghampiri saya yang sebelumnya menanyakan via sms posisi saya di mana. Ngobrol ngaler-ngidul pun tak terhindarkan mulai membahas agenda audiensi, rencana program Lomba Blog Guru Nasional sampai sampai hiruk pikuk persoalan pendidikan di tanah air.

Setelah 30 menit berdiskusi itu, Pak Achjar (Ketua Umum Agupena) menyampaikan via ponsel bahwa rombongan dari Agupena Pusat telah berada di basement dan akan meluncur ke lantai 16 gedung D, di mana Sesditjen PMPTK berada. Akhirnya kami bertemu di ruang masuk lift dan bersama-sama naik lift sambil bercanda. Tiba di lantai 16 gedung D, ternyata rombongan dari Jatim telah menunggu dan jadilah pertemuan itu sebagai ajang silaturahmi. Selanjutnya kami dipersilakn masuk di ruang tunggu dan rupanya Ketua Agupena Jabar masih dalam perjalanan karena terjebak macet.

Setelah menunggu sekira 15 menit sambil mendengarkan arahan Ketua Umum Pusat, tepat pukul 09.00 s.d. 10.00 WIB kami bertemu dengan Sesditjen PMPTK, Bapak Ir. Giri Suryatmana, di ruang kerjanya. Oh, rupanya Pak Giri ini sosok yang ramah, tangkas dan kepenak untuk diskusi.
Ketua rombongan, Mr. Acjar Chalil menyampaikan bahwa Agupena sebagai organissai profesi dalam ikut memajukan pendidikan dan meningkatkan profesionalisme guru di bidang kepenulisan lebih banyak dengan aksi ketimbang sekedar orasi. Statement beliau ini ternyata mendapat tanggapan positip dari Sesditjen PMPTK tersebut.
“Kami dari PMPTK menyambut gembira keberadaan Agupena. Kami juga sudah memprogramkan berbagai pelatihan pemanfaatan ICT untuk kepentingan pembelajaran kepada para guru di seluruh tanah air. Kaitannya dengan dunia kepenulisan, memang sudah saatnya para guru memanfaatkan internet sebagai media untuk berekspresi. Agupena provinsi hendaknya bisa bekerja sama dengan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang ada di daerah untuk melaksanakan program-programnya,” kata Pak beliau dengan lugas.

Merespon pernyataan Sesditjen, Ketua Umum Pusat mengemukakan bahwa Agupena jateng akan mengadakan program unggulan Tahun 2009 untuk mengenalkanguru pada dunia kepenulisan melalui blog/web. Selanjutnya, saya dan Pak Sawali diminta mempresentasikan rencana program itu. Berdasarkan proposal yang telah disusun, Lomba Blog Guru dan Temu Bloger Guru se-Indonesia Tahun 2009) diperuntukkan bagi seganap guru di seluruh tanah air untuk memacu kreatifitas dan unjuk kemampuan dalam pengelolaan blog selama ini yang notabene akan meningkatkan kemampuan menulis. Lomba ini dirangkai dengan Temu Bloger Guru Nasional dengan tujuan ikut memperingati Hari Guru Nasional 2009. Muaranya dapat meningkatkan profesionalisme guru akan pentingnya pemanfaatan blog sebagai media dan sumber belajar yang menarik dan menyenangkan.

Rupanya presentasi saya dan Pak Sawali disambut antusias oleh Pak Sesditjen dengan menyatakan, “ Sungguh, ini program yang bagus dan PMPTK sangat mendukung. Karena ke depan, para guru harus mengakrabi internet dan blog sebagai media pembelajaran sehingga paradigma guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, bahkan tak jarang bersikap seperti diktator (jual diktat, beli motor),” ungkapnya. Beliau mengharapkan Agupena dapat ikut mengubah pola pikir yang selama ini menghinggapi para guru bahwa ketika belajar gurulah yang berkuasa dan penentu. Menurut beliau harus dicipatakan suasana pemebalajarn yang memberdayakan siswa dengan seluruh potensinya. Masih menurut beliau, setiap siswa itu unik sehingga perlu difasilitasi agar potensinya dapat berkembang secara maksimal.

Diskusi dan perbincangan rupanya harus segera diakhiri karena Pak Giri sudah ada agenda lain yang menantinya. Yang menarik sampai menjelang berakhirnya audiensi, Ketua Agupena Jabar masih belu m muncul dan baru kelihatan batang hidungnya ketika kami dan Pak Giri berphoto bersama.
Kejadian menarik berikutnya ketika selesau audiensi dan kami melanjutkan konsolidasi membahas organissai Agupena, tiba-tiba Bang Achjar berbicara, “Bolehkah Ketua Umum Agupena Pusat memberikan instruksi kepada Agupena Provinsi?” tanyanya. Kami menjawab serempat boleh-boleh saja, termasuk saya dengan enteng.
“Baik! Kami menginstruksikan, untuk pelaksanaan Rakernas 2009, Agupena Jawa Tengah yang menjadi panitia dan tuan rumah!” lanjut lelaki paruh baya itu sambil menyerahkan berbagai draf kepada saya. Sejenak saya tertegun, kok kenapa harus Jateng, tidak DKI, Jabar, Jatim, DIY atau yang lainnya. Namun, karena saya harus loyal kepada pimpinan organisasi maka saya katakan, “ Siap kerjakan, Lajutkan” dan hadirin pun tertawa dengan ciri khasnya masing-masning.
Rupanya acara belum berhenti dan dilanjutkan dengan omong-omong tentang organisasi selama ini dan prosfeknya di masa yang akan datang. Akhirnya kami berpindah tempat ke ruang rapat Dirjen karena kebetulan tiga orang pengurus pusat dari unsur pembina hadir yaitu Bapak Sholeh Dhimyati (Ketua Dewan Pembina), Ridwan Mias (Anggota Dewan Pembina) dan Ibu Iim Halimah (Bendahara Umum).

Tak dinyana Rakor itu membahas hal-hal yang sensitif di tubuh organisasi terutama kepemimpinan Pimpinan Pusat dibawah Bapak Achjar Chalil. Kami dari pengurus wilayah mengikuti secara cermat sekaligus mengetahui bahwa Agupena memang ingin menjadi organisasi yang profesional, egaliter, demokratis dan terus membangun semangat kebersamaan. Saya sempat mengusulkan agar the rule of game dari Agupena semakin disempurnakan agar menjadi pegangan yang kuat di tingkat pusat, wilayah maupun daerah. Usul saya direspon dan akan dibahas secara tuntas dalam Rakernas yang diagendakan bulan Desember di Semarang. Acara Rakor berlangsung dengan lancar, penuh canda tawa dan kadang saling memberikan masukan atau kritikan satu sama lain.

Akhirnya acara yang dinantikan tiba, makan siang bersama. Pak Achjar mengajak kami makan siang di kantin Depdiknas dan acara makan pun berjalan dengan penuh keakraban dan semakin memperat hubungan antarpengurus satu dengan yang lainnya. Kami bebas memilih menu apa saja, ada sop buntut, sop daging, bakso dan yang lainnya sesuai selera nusantara. Dalam batin saya, oh ini mungkin liburan saya tahun ini, makan bersama dengan pengurus Agupena yang latarbelakangnya berbeda-beda. Pak Achjar dari Aceh, Pak Ridwan Mias dari Bengkulu, Bu Chusnul dari Jatim dan yang lain dari Jawa. Liburan tidak harus dimaknai dengan pergi ke pantai, pegunungan atau tempat rekreasi ansich, tapi juga kegiatan yang dapat membuat kita bahagia, fresh dan segar. Makan bareng di kantin Depdiknas itu saya rasakan sebagai suasana yang menyenangkan.

Selepas makan siang dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Depdiknas dan rencana melanjutkan perjalanan ke kantor SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre) yang berada di Kompleks Universitas Terbuka dengan membutuhkan waktu untuk perjalanan selama 2 jam.

Tiba, di kantor SEAMOLEC itu kami disambut oleh Bapak Ith Vuthy, M.Sc., M.A. seorang direktur progaram yang berasal dari Vietnam dan menarinya beliau lancar banget menggunakan bahasa Indonesia. Setelah Pak Ith mengucapkan selamat datang dan memberikan sambutana, kami disuguhi informasi tentang seputar SEAMOLEC oleh Bapak Timbul Pardede. Menurutnya, di bawah kepemimpinan DR. Ir. Gatot Hari Priowirjanto, SEAMOLEC yang dibentuk berdasarkan kerja sama 11 Menteri Pendidikan Asia Tenggara (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailan, Timor-Leste, dan Vietnam) ini berupaya untuk memajukan kerjasama di pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Asia Tenggara.
Masih menurut Pak Timbul yang berasal dari Batak, sudah banyak program yang dilakukan SEAMOLEC selama ini. Visi yang diemban yaitu menjadi pusat keahlian secara terbuka dan belajar jarak jauh yang mengemban misi untuk melayani satu juta orang klien menjelang 2010 dalam upaya membantu negara-negara anggota untuk mengidentifikasi masalah kependidikan dan menemukan alternatif pemecahannya. Salah satu di antaranya adalah mendekatkan guru di berbagai jenjang dan tingkat pendidikan terhadap multi-media pembelajaran berbasis ICT.
Saat tanya jawab, saya langsung menyampaikan rencana Lomba Blog Guru dan Temu Bloger se-Indonesia Tahun 2009 dan sekaligus memohon untuk kerja sama secara sinergis dengan SEAMOLEC dalam kegiatan itu, terutama berkaitan dengan pengadaan media ICT (laptop) sebagai hadiah lomba.
“Kemungkinan itu sangat terbuka,” jawab Pak Timbul Pardede. “Tapi, mengapa lomba blognya tidak diperluas dalam lingkup yang lebih luas hingga negara-negara anggota SEAMOLEC bisa mengikutinya?” lanjut Pak Pardede bertanya.
“Iya, ini tantangan bagi Agupena! Mengapa tidak?” sahut Pak Achjar Chalil.
Hmm … menarik juga tantangan ini. “Namun, karena lomba blog untuk guru tingkat nasional itu sudah diprogramkan, ada baiknya buat proposal baru untuk agenda berikutnya dengan event yang lebih luas,” sela Pak Vuthy. “Berikan saja proposalnya untuk kami tindaklanjuti,” lanjutnya. Sementara itu, Agupena Jawa Barat dan Jawa Timur berupaya menjalin kerja sama dengan SEAMOLEC di bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat) pemanfaatan media ICT untuk para guru di wilayahnya masing-masing.

Kesimpulan saya, akhir tahun ini nggak mengapa, saya tidak bisa menikmati liburan seperti tahun tahun sebelunya, namun banyak hikmah dan manfaat yang dapat dipetik untuk kelangsungan organissai Agupena di masa mendatang. Seperti pepatah bilang, “ Kepentingan umum harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi”. Saya yang ketiban sampur dan “dipaksa” menjadi Ketua Agupena Jateng memang harus siap dengan segala konsekuensi itu demi eksisnya organisasi ini.

Semoga harapan semua pihak bahwa Agupena Jateng dapat menjadi wadah yang bermakna dan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan serta peningkatan profesionalisme guru dapat terwujud ketika motto membangun semangat berbagi telah mulai dirasakan. Dukungan dari berbagai pihak pun selama ini alhamdulillah terus mengalir.

Terima kasih Sesditjen PMPTK, Direktur Seamolec, LPMP Jateng, Dinas Pendikan Provinsi Jateng, Pimpinan Suara Merdeka, Penerbit Asta Aji Pustaka, para Kadinas Kabupaten/Kota dan seluruh pengurus Agupena baik pusat, wilayah maupun daerah atas jalinan kerjasama dan upaya membangun semangat berbaginya

MENGUBAH CITRA SEKOLAH

Memasuki tahun pelajaran 2009/2010 yang dimulai 13 Juli 2009 ini, berarti hampir 5 tahun sudah saya mencoba mengabdikan diri di SMP Negeri 2 Talun. Sebuah masa yang mungkin belum terlalu lama. Namun dengan jarak tempuh dari rumah yang hampir 80 km pulang pergi, masa 5 tahun cukup terasa. Apalagi 10 km dari perjalanan itu harus ditempuh dengan medan mendaki, jalanan penuh lobang, menyempit, dan lumayan licin saat hujan.

Akan tetapi semua hingga hari ini masih bisa saya atasi. Perjalanan pulang pergi biasanya saya nikmati dengan tanpa beban. Pikiran yang segar dan mencoba ‘cuek’ dengan perihal yang mungkin muncul sebagai bagian atau upaya merongrong diri.

Dalam masa hampir 5 tahun itu pula, banyak hal bisa saya catat sebagai sebuah perjalanan hidup. Masa yang cukup singkat bila dinikmati dengan gembira dan penuh keikhlasan.

Walau belum genap 5 tahun, yang pasti saya sudah menikmati 4 kali pergantian kepemimpinan sekolah (kepala sekolah). Empat kepala sekolah dengan berbagai tipe, kebijakan, model memimpin, dan sejenisnya.
DSC00193

Saya teringat masa-masa sebelumnya, saat saya masih bekerja di sekolah swasta. Jabatan terakhir saya sebelum diangkat menjadi PNS adalah kepala sekolah. Jadi seperti apa dunia kepala sekolah, saat berkumpul dalam wadah MKKS, saat berhadapan dengan atasan atau bawahan, sampai sejauh mana kepedulian terhadap sekolah, anak didik, dan rekan guru, rasanya bagi saya sesuatu yang tidak asing lagi. Teristimewa lagi saat menghadapi berbagai intrik, persoalan keuangan, suap, dan sebagainya. Dalam 2,5 tahun kepemimpinan saya sebagai kepala sekolah, saya sudah mempelajari semuanya. Beruntunglah, saya berada di sebuah sekolah swasta yang sangat ketat dalam pengawasan keuangan dan kebijakan. Alhasil, selama saya memimpin, persoalan keuangan bisa saya selaraskan dengan kebijakan yayasan.

Hingga saat ini, persoalan-persoalan di sekolah terkadang membuat saya tidak mengerti. Kadang persoalan itu membuat saya geleng-geleng kepala. Persoalan keuangan misalnya, adalah sesuatu yang sangat vital. Tugas guru memang mengajar, namun bukan berarti tidak menggiring keuangan sekolah (lebih khusus lagi dana BOS). Adalah sesuatu yang mencengangkan bila hingga kini misalnya, masih ada kepala sekolah dalam masalah keuangan masih sangat tertutup. Sebagai seorang guru, bagaimanapun memiliki hak untuk mengerti kemana keuangan sekolah dibelanjakan. Apabila ada kepala sekolah yang menutup-nutupi persoalan keuangan, lebih baik didemo saja, karena menunjukkan adanya iktikad tidak baik. Demikian pula, sebagai orang tua atau warga masyarakat, ada hak untuk mengetahui sampai sejauh mana dana-dana sekolah berjalan dengan jalur yang semestinya.

Memang persoalan yang ada di sekolah bukan hanya persoalan keuangan semata. Namun tidak dapat disangkal, keuangan merupakan masalah vital dan sangat sensitif. Menjadi kepala sekolah yang baik haruslah mampu menjadikan keuangan sekolah bisa dipergunakan sesuai dengan seharusnya. Menjauhkan diri dari predikat ‘kapal keruk’ bagi sekolah dan komponennya.

Mengubah citra sebuah sekolah memang bukan persoalan mudah. Bagi saya, yang paling penting, kepala sekolah mestilah menjadikan semua komponen yang ada di sebuah sekolah merasa nyaman. Siswa merasa nyaman saat menghadapi kegiatan pembelajaran, guru juga merasa nyaman saat menghadapi tugas-tugasnya, pegawai tata usaha juga demikian. Semua itu bisa tercipta bila sekolah memang mempunyai pemimpin (kepala sekolah) yang mampu mengayomi dan menciptakan suasana sekolah yang kondusif.

Bagi saya, suasana kondusif amat penting dalam membangun sebuah citra sekolah. Sekolah yang berhasil bagi saya bukanlah yang memiliki label tertentu semacam SSN, RSBI, SBI, dan sebagainya. Sebuah sekolah yang selalu meluluskan siswanya dan dianggap sebagai sekolah favorit bagi saya belum tentu sekolah itu berhasil dalam pembelajaran. Sekolah yang berhasil menurut saya adalah apabila komponen inputnya bisa dijadikan berkualitas sehingga outputnya bisa dilihat adanya peningkatan mutu. Seorang siswa yang dicap nakal, ditolak oleh sekolah berlabel ‘favorit’, namun saat lulus mampu menunjukkan jati diri dengan prestasi di sekolah yang biasa-biasa saja, bagi saya itulah citra dari sekolah yang berhasil.

Mengubah citra sekolah memang harus ada niat kesungguhan dan keikhlasan. Mengubah citra sekolah bukanlah dengan menjadikan komponen yang ada di sekolah menjadi ‘takut’, tapi mengubah citra sekolah adalah mewujudkan sebuah kebersamaan dengan membangun kekuatan motivasi dan keinginan untuk maju. Di dalamnya termuat adanya unsur keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, keikhlasan, dan keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Bagaimana dengan sekolah yang ada di lingkungan pembaca?

Jazaul Khoeroh (Bagian ke-2)

jazaulYang pasti ini bukan cerita fiksi yang memiliki bagian-bagian. Ini adalah kelanjutan kisah dari seorang anak didik saya di sebuah SMP daerah pebukitan, tepatnya di SMP Negeri 2 Talun.

Bagi yang belum mengenal lebih jauh tentang anak didik yang saya bicarakan ini, ada baiknya diklik di sini. Bagi yang masih ingat tentang Jazaul, kita lanjutkan saja ceritanya.

Setidaknya lanjutan ini juga terinspirasi dari tulisan rekan saya, Bahtiyar Zulal. Apalagi di akhir pertemuan saya dengan Jazaul, kesan saya terhadap anak didik saya ini begitu kuat.

Saya terakhir bertemu dengannya 20 Juni 2009, yakni saat pengumuman kelulusan. Bila pada cerita sebelumnya saya bercerita tentang ketidaklulusannya saat try out, maka lain halnya pada saat pengumuman kelulusan. Jazaul benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai anak yang cerdas. Ia memperoleh nilai tertinggi dan lulusan terbaik. Nilai mata pelajarannya mendekati sempurna.

Sebagai lulusan terbaik, sudah tentu pengumuman itu disambut Jazaul dengan suka cita. Namun pada saat bertemu, justru kesan suka cita itu seolah mengabur, berganti duka di wajahnya. Saat bersalaman terakhir kali dan menanyakan akan melanjutkan ke sekolah mana,duka itu kian mengambang jelas di matanya.

Pada saat itu ia memang tak menjawab. Dari teman-temannya, saya mengetahui bila ia tidak melanjutkan sekolahnya. Kemiskinan adalah faktor utama yang menjadikan ia tak mampu melanjutkan cita-cita yang mungkin pernah dipunyainya.

Saya jadi teringat dengan para caleg dan capres saat kampanye. Betapa dunia pendidikan ikut disorot sebagai salah satu program yang mendapat prioritas. Namun bila mengingat apa yang terjadi pada diri Jazaul, saya jadi bimbang, ragu, dan skeptis terhadap kampanye tersebut.
DSC00415
DSC01039
DSC01638
Selain masih banyaknya warga masyarakat yang miskin, persoalan transportasi juga menjadi kendala utama bagi anak-anak lulusan SMP 2 Talun yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sekolah lanjutan Atas paling dekat dengan SMP Negeri 2 Talun adalah SMAN Talun yang jaraknya tak kurang dari 10 km. Semenjak saya mengajar di SMP 2 Talun tahun 2005 lalu, hingga kini belum ada transportasi untuk umum ke SMAN Talun yang terletak di ibu kota kecamatan. Jalanan memang sudah diaspal (walau banyak lobangnya), penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam. Saya tidak tahu pasti, apakah medan yang lumayan berat itu yang menjadi tiadanya alat transportasi. Yang pasti, bila ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, lulusan SMP 2 Talun harus memiliki minimal sepeda motor, atau nge-kost. Dua pilihan yang tentu saja butuh biaya. Belum lagi untuk biaya sekolah tentunya.

Itulah, dengan kondisi keluarga kurang mampu, Jazaul tidak mampu melanjutkan sekolahnya.

Mungkin cerita tentang Jazaul, anak yang memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik dibanding teman-temannya tapi dengan kondisi kurang beruntung, tidaklah sekali dua kali kita dengar. Hampir saban tahun kisah-kisah seperti ini saya temukan saat pengumuman kelulusan disampaikan. Sebuah keinginan, harapan, ataupun cita-cita dari seorang anak diputus begitu saja, lantaran terkendala biaya. Sungguh mengenaskan di Republik yang telah merdeka hampir 64 tahun lalu. Sungguh sebuah ironi nyata, di saat para pemimpin kita dengan gampangnya meluahkan kata-kata.