Abad yang Terluka

begitu banyak suara begitu bising berita
ketika era informasi diglobalkan
dan komunikasi, dunia tanpa baju dan celana
telanjang, orang-orang menikmatinya

mestinya kita memelihara sedikit yang kita punya
dan menempatkannya di muka, tanpa harus melewati jalan panjang, berliku, dan berbelitnya birokrasi
sebab kita maukan kejujuran, kita sama agungkan
keterbukaan dan kebebasan sebagai cita-cita
tanpa muka masam atau manis berduri
yang hanya mendatangkan parasit dan gulma

kita kian mengerti, begitu banyak atmosfir beracun
asap berwarna, dan lautan tempat bertumpuknya sampah
kita semakin tahu, betapa bumi kian sempit
dan lahan hijau kian hilang
hingga begitu banyak hal yang hanya diproyekkan
kita akan dapat memahami akhirnya
mengapa ada penggusuran dan protes dari rakyat kecil
yang sungguh telah menjadikannya
sebagai santapan kedua sepanjang abad yang terluka

Intimidasi Pengawas UN oleh Kepala Sekolah

Akhirnya selesai sudah UN tingkat SMP/MTs tahun ini. Sebagai panitia UN di tingkat sekolah, Alhamdulillah saya dan kawan-kawan bisa menyelesaikan tugas sesuai rambu-rambu yang telah ditetapkan pemerintah.

Beberapa teman yang mengajarnya sama dengan saya dan menjadi pengawas di sekolah lain bercerita, bahwa UN di sekolah tempat dia mengawas juga berjalan lancar. Namun ada salah seorang teman yang ditempatkan sebagai pengawas di MTs bercerita, bahwa kepala sekolahnya mengintimidasi 2 orang pengawas.

Lha kok bisa? Bagaimana ceritanya?

Kejadiannya pada hari kedua dari 4 hari pelaksanaan UN. Saat itu 2 pengawas - kabarnya berasal dari MTs lain - berada di ruang 1. Sebagai pengawas UN, kedua pengawas itu mencoba melaksanakan tugas dengan baik. Ternyata siswi yang berada di ruang itu rata-rata tukang contek.

Ada salah seorang siswi yang diingatkan berulang kali, namun bandelnya luar biasa. Tidak hanya mencontek, tapi juga gaduh minta jawaban pada temannya. Oleh karena tidak mempan diingatkan berulang kali, akhirnya sang pengawas berdiri di belakang. Kebetulan anak yang sering berbuat gaduh itu juga duduk di belakang. Oleh karena berada di belakangnya, anak yang sering gaduh tadi tidak berkutik.

Ternyata persoalannya berbuntut. Si anak begitu sampai di rumah melapor pada orang tuanya. Orang tuanya komplain ke pihak sekolah.

Besok paginya kedua pengawas itu dipanggil oleh kepala sekolah. Si pengawas kabarnya dimarahi dan malah diintimidasi akan ‘diusir’ jika tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Si pengawas yg kebetulan masih GTT di sekolahnya jadi bertanya-tanya, pengawasan yg baik seperti apa yg dimaksudkan. Jawabannya kemudian didapat dari kepala sekolah juga. Mengawasi jangan ketat (nggak tahu kategori jangan ketat itu, apa misalnya termasuk membiarkan siswa gaduh dan mencontek).

Sang pengawas akhirnya hari ketiga dan keempat dipindah ke lokasi anak putra (kebetulan di MTs itu anak putra dipisah dengan anak putri). Selain itu selama 2 hari terakhir sang pengawas dipanggil pagi-pagi oleh kepala sekolah (jadinya mirip tersangka yg diharuskan wajib lapor). Tidak tahu juga apa instruksi yang diberikan kepada kedua pengawas itu oleh si kepala sekolah.

Itulah cerita dari teman saya tentang pengawasan di sebuah MTs. Cerita yang bisa dinilai sendiri oleh pembaca budiman. Cerita yg terjadi di bulan Mei, saat beberapa hari sebelumnya kita merayakan Hari Pendidikan Nasional.

Kulit Pisang Pengganti BBM?

Unyil, barangkali tidak ada yang tidak tahu dengan tokoh ini. Tokoh film yang pintar. Tokoh film yang saya tonton sejak saya masih SD, hingga kini tetap saja sang tokoh tak berubah.

Terlepas dari ‘kutukan’ terhadap Unyil dan tokoh lain yang tidak berubah, banyak sisi positif film ini. Dulu saat tayang di TVRI, film Si Unyil lebih banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Sekarang, saat tayang di Trans 7, film ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari dalam lingkup teknologi. Si Unyil tidak lagi sekadar ber-hom-pim-pa dengan teman-temannya, tapi telah menjelma menjadi tokoh yang berpengetahuan amat luas (meski tetap saja nggak beranjak jadi anak SMP atau SMA).

Banyak sisi positif dari film yg bertajuk Laptop Si Unyil ini. Senin, 5 Mei 2008 lalu misalnya, ditayangkan kegunaan kulit pisang (contoh di filmnya kulit pisang ambon). Kulit pisang yang biasanya kita buang, ternyata mengandung energi yang bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan tersebut dicontohkan untuk energi yang bisa menggerakkan jarum jam dan menghasilkan cahaya lewat senter.

Caranya? Ambil batu baterai yang sudah tidak dipakai. Kelupasi bagian luarnya. Buka tutupnya dan buang isinya. Ingat batangan di dalamnya jangan dibuang. Lalu siapkan kulit pisang. Potong kulit pisang itu kecil-kecil, lalu masukkan ke dalam batu baterai yang tadi telah dikeluarkan isinya. Isi penuh dan padatkan. Setelah itu tutup kembali dan rapikan. Baterainya siap digunakan.

Sederhana bukan? Sayangnya penelitian mengenai energi kulit pisang ini belum selesai.

Itulah Si Unyil dengan laptopnya. Biar unyil dan belum tamat SD hingga kini, contoh kisah di atas amat bagus. Apalagi di saat pemerintah sedang bersiap menaikkan harga BBM. Siapa tahu ada yang meneliti kulit pisang atau kulit lainnya sebagai alternatif pengganti BBM.

Ada yg mau coba?

Di Suatu Pagi

pertama kudatang, tanah ini masih
menyisakan keharuman tubuh perempuan
di tempat-tempat pemandian
di sungai kecil
yang masih saja mengalirkan bening air
sepanjang peradaban

pertama kudatang dan menetap
simpang ini masih sepi
masih bisa menghitung dua tiga teriakan
dan deru lalu lalang
di bebatuan berserakan
sepanjang perjalanan

dan ini pagi, tiada lagi sepi
kecuali tebaran asap dari kota mati
meninggalkan kesunyian seorang pengembara
pada beton dan tiang-tiang sepanjang jalan
serta tak lagi menyisakan nyanyian pagi
dan wanginya tubuh perempuan
sebab sungai di belakang telah kering
bercampur amis dan tubuh-tubuh
tanpa nyawa

Pasrah

Hari anak-anak kelas IX terlihat demikian pasrah. Saya berharap bukan karena kelelahan, melainkan pasrah berharap adanya kekuatan Sang Khalik dalam membuka pikiran saat pelaksanaan UN.

Dua hari para siswa dibekali panitia UN dalam bentuk persiapan menjelang pelaksanaan, pada saat UN berlangsung, dan pasca UN.

Sebagai salah seorang panitia UN di sekolah, saya sampaikan hal-hal yg harus disiapkan siswa. Mulai kedatangan di tempat ujian, peralatan yg harus dibawa, tata tertib, hingga tempat parkir.

Pada bagian akhir saya menekankan agar siswa tidak lupa memohon kepada-Nya. Bagaimana pun, kekuatan doa luar biasa, karena mampu mendobrak sesuatu yg sebelumnya tak pernah kita duga.

“Dan jangan lupa,” ajak saya, “Kalian harus mohon doa restu dari orang tua dan guru.
Pada saat berangkat, salami orang tua dan mohonlah didoakan: ‘Pak/Bu, saya berangkat ke sekolah. Hari ini di sekolah ada ujian. Doakan Pak/Bu agar saya bisa lulus dengan baik.’
Sampaikan hal itu dengan penuh keikhlasan. Lakukan setiap Kalian akan berangkat.”

Kelas terasa hening. Dengan lirih saya lanjutkan, “…dan jangan lupa, mohon doa dari Bapak/Ibu guru…”

Anak-anak terpaku dalam hening. Saya merasakan kedekatan yang amat sangat dengan mereka. Merasa seolah-olah mereka akan pergi ke tempat yang jauh.

Pada saat mereka bersalaman dan minta doa restu dengan para guru, beberapa anak putri menangis. Malah ada salah seorang pingsan, mungkin tak kuasa menahan suasana haru itu.

Acara kemudian dilanjutkan doa bersama. Semua tafakur, melakukan dengan sangat khusuk.

Ah, anak-anak tersayang, semoga Kalian lulus dan sukses menempuh UN 5-8 Mei 2008. Semoga Allah membuka pemahaman dan membuka jalan pikiran Kalian saat UN.

Sumbangsih

Apa yang terpikir saat 2 Mei kembali mampir mengujungi kita? Ini adalah hari yg semestinya punya siapa saja, terutama yg pernah berkecimpung di dunia sekolahan alias dunia pendidikan.

Lalu bagaimana dunia pendidikan kita saat ini?

Kalau mau jujur, kebanyakan orang memandang dunia pendidikan dg nada sinis. Mulai dari carut-marut kurikulum hingga gedung yg tak layak pakai. Dari kong kalikong penyunatan bantuan rehab sampai gaji yg kecil. Dari sertifikasi hingga ujian nasional yg penuh protes.

Begitulah dunia pendidikan kita. Kelihatan penuh carut-marut. Tapi haruskah kita menyerah?

Keikhlasan dan kesungguhan diperlukan. Sebagai guru, kadang saya mengatakan kepada kawan-kawan, jadikan kegiatan belajar mengajar sebagai ibadah. Dengan demikian kita bisa lakukan semua penuh semangat dan keikhlasan.

Sekarang, melihat dunia pendidikan seperti di atas, adakah kita peduli? Kalau setiap kita pernah berhubungan dg dunia pendidikan, apa sumbangsih yg bisa kita berikan?

Berbuat dan melakukan tindakan nyata, barangkali akan sangat bermanfaat ketimbang caci maki atau menangisi.

Selamat Hari Pendidikan.

TKI, Pahlawan atau Pemerasan Manusia?

Pada saat peringatan Hari Buruh yang jatuh tanggal 1 Mei, hari ini, pikiran saya melayang pada tenaga kerja yg dikirim ke luar negeri (TKI). Sebagai tenaga kerja, mereka merupakan bagian yg tak terpisahkan dari dunia buruh. Pekerjaan mereka di luar negeri tidak beda dengan yg bekerja di dalam negeri. Menjadi buruh di perkebunan, pabrik, hingga pembantu rumah tangga.

Ada yang sukses, namun banyak juga yg menuai bencana. Diperkosa, dianiaya, bahkan dihabisi nyawanya. Perlindungan yang diberikan pemerintah amat lemah. Tak ayal, saban waktu kita mendengar bencana demi bencana mereka terima.

Lalu mereka diberi gelar pahlawan devisa, sebuah gelar ironis, yg juga diterima para guru (pahlawan tanda jasa).

Benarkah mereka perlu diberi embel-embel pahlawan devisa? Tidakkah justru yg terjadi pemerasan manusia?

Hari ini buruh merayakan hari mereka. Tapi bagi TKI adakah mereka merasa aman dan nyaman untuk bekerja?

Bagaimana kawan-kawan pembaca? Tanggapannya saya tunggu….

K e p u l a n g a n

akhirnya aku pulang juga, meski kembara belum selesai
matahari mungkin telah senja, sementara mendung
masih berkabar duka
dan dalam kereta yang membawaku, angin memukul-mukul dari jendela, hingga kumenggigil kedinginan
musim penghujan, mantel ini seperti tak berarti apa-apa
panas yang kau nyalakan telah lama padam
aku kembali menjalani
kekalahan untuk kesekian kalinya

kepulangan; aku mengerti juga akhirnya
kotamu terlalu sulit dimengerti
barangkali bukan untukku. terlalu banyak
keasingan demi keasingan yang belum pernah kurasa
terlalu banyak basa-basi dan pancaran mata yang aneh
aku tak mengerti rumus, tak mengerti abjad
biarkan kupulang ke tempat kelahiranku, tanpamu
karena pijar angin kotamu,
mengusir napasku dalam luruhnya rindu